Waspadai Jika Bentuk Kepala Bayi Tidak Normal

 

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Bentuk kepala bayi yang tidak normal atau tidak proporsional patut diwaspadai. Karena, bisa jadi bayi tersebut mengalami kelainan Craniosynostosis. Dampak yang timbul pada bayi adalah sakit kepala berkepanjangan, gangguan dalam penglihatan, serta masalah psikologis di kemudian hari.

Bentuk kepala tidak normal itu bersumber pada kelainan tulang tengkorak. Tulang tengkorak bukan satu tulang utuh yang berdiri sendiri, melainkan gabungan dari tujuh lempeng tulang yang berbeda. Ketujuh tulang itu dihubungkan satu sama lain oleh jaringan elastis kuat yang disebut sutura.

Sutura memungkinkan tulang tengkorak bisa mengembang mengikuti pertumbuhan volume otak. Seiring berjalannya waktu, sutura semakin mengeras dan akhirnya menutup, menyatukan ketujuh lempeng tulang itu menjadi tulang tengkorak yang utuh.

Seorang bayi dikatakan mengalami craniosynostosis jika satu atau beberapa jaringan sutura menutup lebih cepat dari kondisi normal. Akibatnya, otak bayi tersebut tidak bisa berkembang dengan maksimal karena terhambat oleh tulang tengkorak. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan munculnya beberapa gangguan dan kelainan.

Penyebab pasti craniosynostosis belum diketahui pasti, tapi terkadang kondisi ini berhubungan dengan kelainan genetik.

Gejala Craniosynostosis

Tanda-tanda craniosynostosis biasanya sudah tampak saat bayi lahir, dan semakin terlihat jelas setelah beberapa bulan. Tanda-tanda tersebut antara lain:

  • Ubun-ubun (fontanelles) pada bagian atas kepala bayi tidak terlihat.
  • Bentuk tengkorak bayi terlihat aneh (tidak proporsional).
  • Munculnya ICP atau peningkatan tekanan di dalam tengkorak bayi.
  • Kepala bayi tidak berkembang sejalan dengan pertambahan usia.

Pada sebagian kasus, craniosynostosis menyebabkan adanya gangguan atau kerusakan pada otak, serta menghambat proses pertumbuhan secara umum. Keluhan-keluhan yang menandai gangguan ini adalah:

  • Muntah, spontan tanpa didahului rasa mual.
  • Gangguan pendengaran.
  • Mata bengkak atau sulit digerakkan.
  • Lebih sering tidur dan jarang bermain.
  • Suara napas keras dan tidak teratur.
  • Lebih mudah menangis dibanding biasanya.

Pengobatan Craniosynostosis

Craniosynostosis yang tidak terlalu parah, tidak membutuhkan pengobatan yang serius. Dokter biasanya menyarankan penggunaan helm khusus pada pasien dengan tujuan merapikan bentuk tengkorak.

Jika craniosynostosis parah, harus dilakukan operasi untuk mengurangi dan mencegah tekanan otak, memberikan ruang agar otak bisa berkembang, serta merapikan bentuk tulang tengkorak.

Ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan untuk menangani craniosynostosis, yaitu:

  • Bedah endoskopi.

Bedah minimal invasif ini cocok dilakukan untuk bayi berusia di bawah enam bulan, dengan syarat hanya satu sutura yang bermasalah. Lewat operasi ini, sutura yang bermasalah akan dibuka sehingga otak bisa berkembang secara normal.

  • Bedah terbuka.

Operasi jenis ini dilakukan untuk bayi di atas enam bulan, dan tidak hanya untuk mengatasi sutura yang bermasalah, tetapi juga memperbaiki bentuk tulang tengkorak yang tidak proporsional. Masa pemulihan pascaoperasi bedah terbuka lebih lama dibandingkan dengan bedah endoskopi.

Terapi helm dapat diberikan untuk merapikan bentuk tulang tengkorak setelah bedah endoskopi, tetapi pada bedah terbuka terapi ini tidak diperlukan.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(khb)

Leave a Reply

Select Language