Sudden Death dan Kekerasan pada Kepala

Foto: Wirawan/SNei

Oleh: Dr. dr. Asra Al-Fauzi, SE, MM, Sp.BS (K), FICS, IFAANS, Chairman Surabaya Neuroscience Institute (SNei)

Kejadian terulang.  Kasus kematian yang tiba-tiba setelah kekerasan pada kepala. Guru SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, meninggal setelah kasus pemukulan di bagian kepala oleh muridnya. Sempat sadar dan mengeluh sakit pada leher, tapi tidak beberapa lama kemudian dia tidak sadar dan dinyatakan mati batang otak di rumah sakit.

Kejadian yang mirip,  kasus kematian cepat dan mendadak kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, setelah benturan pada kepala dan lehernya dengan rekan setim beberapa waktu lalu. Memang kadang sulit diantisipasi.  Kekerasan pada kepala meskipun terkesan ringan dan penderita masih bicara dan sadar,  sering kemudian berakhir fatal. Istilah ‘talk and die’ sering dikonotasikan dengan kejadian trauma kepala di mana penderita awalnya ‘sehat’ tapi kemudian mendadak meninggal.

 Sudden Death

Berdasarkan kronologis dan proses kejadian trauma kepala (pemukulan) serta keadaan klinis sang guru (mengeluh nyeri leher), secara medis bisa dianggap sebagai kasus trauma kepala dan leher (head and neck injury) atau gegar otak dalam bahasa awam-nya. Juga, itu termasuk suatu kedaruratan medis (neurosurgical emergency).  Artinya memang dibutuhkan penanganan cepat dan akurat karena bisa terjadi komplikasi-komplikasi yang serius.

Organ kepala dan leher terdiri dari kulit, jaringan lunak dan otot.  Di bawahnya,  ada tulang kalvaria dan tulang leher. Di dalam struktur tulang ini ada selaput saraf (duramater) dan serabut-serabut saraf yang berhubungan dari otak sampai leher. Trauma kepala selalu perlu penanganan serius. Sebab,  bila mengakibatkan cedera pada saraf otak dan leher ini, bisa timbul kecacatan permanen bahkan kematian.

Dari kejadian fatal pada kasus sang guru dan kiper Persela, bisa kita amati  mekanisme cedera kepala yang terjadi. Kontak fisik yang terjadi, khususnya kasus benturan dan pemukulan sering mengenai sisi samping kepala atau rahang, Secara biomekanis,  terjadi rotational acceleration injury, yakni gerakan rotasi yang cepat pada kepala, sehingga otak didalamnya juga ikut terputar dengan batang otak dan myelum pada leher sebagai akarnya. Terjadi kerusakan pada batang otak seperti tergunting (shearing injury). Bahkan pembuluh darah (bridging vein) di otak bisa ikut terputus dan terjadi perdarahan otak akut yang dikenal dengan ‘Subdural Hemorrhage‘, yang sering berakibat fatal.

Selain itu gerakan dan guncangan mendadak pada kepala  menimbulkan tarikan dan regangan pada tulang leher (whiplash injury). Sehingga bisa terjadi dislokasi segmen tulang leher dan merusak saraf di leher juga (tertekan, tertarik atau terpeluntir) yang sering juga dikenal dengan istilah spinal cord injury. Sudden death adalah istilah yang digunakan pada kasus kematian yang cepat dan tidak diduga (rapidly & unexpectedly) serta bisa terjadi 1 sampai 24 setelah onset/kejadian. Sering kita dengar pada kasus jantung, stroke atau keracunan. Batang otak dan saraf di leher secara fungsional adalah pusat kontrol saraf untuk kesadaran, pernafasan dan hemodinamik (jantung dan tekanan darah). Wajar bila keadaan ‘talk and die’ atau ‘sudden death’ sering dijumpai pada kasus ini. Tiba-tiba pasien tidak sadar dan meninggal, atau tiba-tiba nafas terhenti dan membiru seperti kasus kiper Persela, sehingga perlu alat bantu nafas segera meskipun akhirnya tetap tidak menolong.

Pada kasus sang guru di Sampang,  ada jeda waktu, dimana masih sadar dan bicara tetapi malamnya dia dinyatakan meninggal (talk and die). Seharusnya,  meskipun masih sadar, yang bersangkutan perlu mendapatkan perawatan khusus oleh tenaga medis untuk mencegah komplikasi selanjutnya. Paling tidak bila terjadi dislokasi tulang leher, segera di pasang penyangga leher (collar brace). Tulang yang tidak stabil bila begerak akan semakin menekan saraf.

 Antisipasi

Trauma kepala dan leher harus segera ditangani tenaga medis untuk menentukan berat atau ringannya cedera secara klinis dan radiologis. Meskipun terkesan ringan, kekerasan di area ini sangat berbahaya.  Sebab,  komplikasi yang terjadi sering tidak terduga dan berakibat fatal. Di sini peran masyarakat dan petugas medis dalam melakukan edukasi serta penanganan awal. Juga,   terapi selanjutnya sangat penting. Bila hanya cedera kepala ringan tanpa adanya kelainan pada saraf (dari hasil CT scan/MRI kepala) maka biasanya hanya perlu observasi 1 sampai 2 kali 24 jam. Bila terjadi kelainan pada saraf, dengan penanganan lebih awal,  ada harapan untuk melakukan intervensi medis untuk lifesaving dan mencegah kecacatan permanen.

Pada dasarnya, pencegahan lebih baik dari pengobatan. Kasus-kasus trauma kepala bisa terjadi karena kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olah raga dan perkelahian/pemukulan. Pemakaian seat belt, helm dan aturan mengikat dalam olah raga harus kita patuhi. Kasus pemukulan murid kepada guru, merupakan problem sosiokultural di masyarakat kita. Kita semua bertanggung jawab. Semoga kasus seperti itu tidak terulang.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.

 

(tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, pada Minggu, 4 Februari 2018)

 

 

 

Leave a Reply

Select Language