Perokok Pasif Lebih Rentan Alami Stroke

Foto: Wirawan/ SNei

SNei.or.id-Jika merokok berbahaya bagi kesehatan perokoknya. Pun demikian tidak kalah bahayanya dengan orang-orang di sekitar perokok, atau yang sering disebut dengan perokok pasif. Perokok pasif bahkan memiliki dampak dua kali lebih besar terkena stroke daripada perokok aktif.

Menurut data WHO setiap tahun di seluruh dunia lebih dari 5 juta orang meninggal karena rokok. Angka ini bisa meningkat setiap tahunnya jika rokok tidak dikendalikan. Selain  menimbulkan jumlah korban yang banyak rokok juga berbahaya bagi orang-orang yang hidup di sekitar perokok, atau yang disebut perokok pasif.  Mereka ini adalah seseorang yang tidak langsung menghirup tembakau dari rokok yang dihisap orang lain.

Efek merokok pasif banyak, tidak jauh berbahaya dari perokok aktif itu sendiri. Umumnya para perokok pasif adalah bayi, anak-anak dan juga kadang orang dewasa yang tidak merokok, namun hidup di lingkungan perokok.

Perokok pasif memiliki dampak terkena stroke dua kali lebih besar daripada perokok aktif. Perokok pasif umumnya mengidap lebih dari 4000 zat kimia.  Zat yang terhirup perokok pasif mengakibatkan darah menjadi lengket dan cenderung menyumbat, dengan demikian, meningkatkan risiko serangan stroke.

Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka yang tidak pernah merokok namun terpapar oleh asap rokok di rumah atau lingkungan, hampir 50 persen mengalami stroke. Selama penelitian, penderita stroke yang terpapar asap rokok, juga lebih mungkin meninggal karena paparan tersebut dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar asap rokok.

“Perokok pasif sangat berisiko untuk semua orang. Tetapi mereka yang memiliki riwayat stroke harus lebih berhati-hati untuk menghindari hal itu,” ujar peneliti Dr Michelle Lin dari Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore, seperti dikutip dari reuters.com, (24/10/16).

Tim peneliti mengalisis data dari hampir 28.000 orang yang tidak pernah merokok di atas usia 18 tahun, yang berpartisipasi dalam survei tahunan kesehatan nasional dan gizi. Peserta direkrut antara 1988 dan 1994, kemudian pada 1999 dan 2012. Mereka diminta untuk menjawab pertanyaan, “Apakah ada orang orang yang tinggal di sini yang merokok dengan rokok cerutu atau pipa di mana saja di dalam rumah ini?”

Para peneliti mengukur jumlah orang yang terkena asap dengan melakukan tes darah. Hasilnya ialah di antara peserta survei antara tahun 1999 dan 2012, orang yang terkena jumlah tinggi asap rokok, 46 persen lebih mungkin dibandingkan mereka yang terkena sedikit atau tidak ada asap memiliki riwayat stroke masa lalu.

Merokok berkontribusi meningkatkan risiko stroke iskemik maupun serangan transient ischemic (TIA), yang merupakan stroke kecil yang dapat sembuh. Beberapa orang yang menderita stroke mengalami tanda-tanda peringatan TIA pada awalnya, sementara itu beberapa orang secara tiba-tiba mengalami stroke permanen yang parah tanpa ada tanda-tanda peringatan ataupun TIA sebelumnya. TIA selalu merupakan indikasi dari risiko stroke yang serius yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Banyak perokok juga menderita silent stroke, yang merupakan stroke kecil yang tidak mengakibatkan keluhan neurologis yang jelas. Masalah silent stroke yang terjadi dari waktu ke waktu dapat mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi dengan baik dan pada akhirnya dapat mengakibatkan timbulnya  masalah neurologis mendadak yang serius, seperti demensia.

Perokok yang menderita TIA, stroke, atau silent stroke pasti berisiko stroke-nya kambuh kembali atau lebih parah jika mereka terus merokok. Dengan demikian, kondisi TIA  merupakan pertanda yang jelas untuk perokok bahwa ada kerusakan akibat stroke yang berkembang di tubuhnya. Adanya satu atau lebih kejadian silent stroke juga harus diwaspadai oleh perokok untuk adanya cedera yang cukup besar yang muncul dalam otak.

Berhentilah merokok, sayangi orang-orang di sekeliling kita. Kesehatan lebih berarti daripada kenikmatan semu yang tidak jelas tujuan dan manfaatnya.

Konsultasikan berbagai permasalahan terkait dengan stroke dengan dokter spesialis bedah saraf terbaik yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(Aby)

 

Leave a Reply

Select Language