Operasi Bedah, Solusi Baru Pengobatan Epilepsi

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Para penderita epilepsi nampaknya bisa bernafas lega. Karena kini mereka tak harus meminum obat seumur hidupnya. Karena ada operasi khusus untuk penderita epilepsi yang bisa menyembuhkan penyakitnya dalam jangka panjang, dan tak lagi punya ketergantungan obat.

Dokter bedah saraf yang juga pakar epilepsi  dari Surabaya Neuroscience Institute (SNei), dr. Heri Subianto, Sp.BS (K) mengatakan bahwa ketergantungan obat untuk pasien epilepsi bisa dikurangi secara bertahap setelah tindakan operasi. “Pasien akan tetap mengonsumsi obat selama setahun pertama setelah operasi, dari kontrol rutin itu kita akan tahu perkembangannya, pelan-pelan kita mengurangi ketergantungan obatnya hingga lepas sama sekali,” ujarnya.

Pasien epilepsi, ia menjelaskan, bisa mengalami kejang sewaktu-waktu, bahkan penderita epilepsi juga punya risiko Sudden Unexpected Death in Epilepsy (SUDEP) yaitu kematian tiba-tiba akibat epilepsi.

Dokter Heri, salah satu dokter bedah saraf terbaik di Surabaya dan Indonesia ini mengtakan bahwa teknik bedah mikro maupun endoscopic (tanpa buka tempurung) meyakinkan bahwa epilepsi bisa disembuhkan dan dikendalikan.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini menjelaskan, penanganan epilepsi bertujuan untuk mengontrol kejang dengan baik sehingga kualitas hidup penderita membaik dan tidak perlu khawatir kejang datang tiba-tiba. Hal itu bisa dicapai dengan melakukan tindakan operasi bedah otak.

Untuk itu, kata dokter Heri yang staf pengajar di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mengatakan bahwa ada berbagai jenis teknik pembedahan yang dapat dilakukan pada pasien epilepsi. Jenis pembedahan yang dilakukan tergantung pada jenis kejang dan area otak yang menjadi penyebab kejang. Teknik operasi sendiri bisa dikelompokkan menjadi terakoltik atau reseksi dengan memetakan area kejang.

Penderita Makin Kebal Obat

Dan perlu diketahui, hingga kini sebanyak 30 persen pasien epilepsi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut karena tidak merespons pemberian obat anti-kejang. Kondisi tersebut dikenal dengan drug resistant epilepsy.

Penderita drug resistant epilepsy (DRE) tersebut menurut Dokter Heri tidak bisa menghentikan kejangnya meski mengonsumsi obat antikejang. Pemberian obat yang berbeda atau penambahan dosis hanya mengantarkan mereka ke honeymoon period. Yakni, kondisi pasien yang bebas kejang namun dalam waktu pendek.

“Untuk pasien yang kebal obat, tetapi ternyata sumber kejangnya difuse atau dibanyak tempat atau general epilepsy, alternatif solusi untuk mengurangi frekuensi kejangnya yaitu dengan melakukan tindakan paliatif,” tutur dokter yang mengambil fellow epilepsy & epilepsy surgery di All India Institute of Medical Sciences (AIIMS), New Delhi India.

“Paliatif itu bisa dimulai dengan melakukan tindakan operasi dengan teknik minimally invasive  (Sayatan kecil) atau namanya endoscopy corpus callosotomy and hemispherotomy (NCBI) tujuannya untuk memutus jalur-jalur saraf yang membuat kejang itu bisa tersebar kemana-mana,” imbuhnya.

Dari beberapa pasien yang sudah dilakukan evaluasi ternyata banyak ditemukan kasus dengan sumber kejang yang mengarah ke temporal lobe epilepsy (TLE), jadi harus dilakukan tindakan reseksi. Jika yang mengalami difuse atau kejangnya merata ke mana-mana maka bisa dilakukan endoscopy corpus callosotomy and hemispherotomy (NCBI).

Secara umum dokter bedah saraf yang menangani epilepsi itu menjelaskan jika bedah dilakukan untuk menghilangkan area penyebab kejang, mengintervensi jalur saraf yang menyebabkan kejang, atau menanamkan alat khusus pengendali kejang.

“Beberapa anak penyandang epilepsi yang menjalani pembedahan menunjukan perbaikan, di mana tidak lagi mengalami kejang, atau frekuensi kejang menurun dibanding sebelum pembedahan,” ujarnya.

Dokter Heri juga mengatakan sebesar 70 hingga 80 persen pasien epilepsi yang sudah dioperasi akan memiliki kualitas hidup yang lebih panjang sekitar 10 tahun untuk terbebas dari kejang. Dengan begitu, kata Heri, penderita epilepsi ini tidak akan merasa was-was dan takut lagi ketika melakukan aktifitas di luar rumah seperti bekerja, menyetir mobil dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan pasien epilepsi yang tidak melakukan tindakan apapun atau yang hanya mengandalkan obat-obatan yang sifatnya hanya sementara untuk terbebas dari kejang.

Dokter Heri termasuk ke dalam tim dokter bedah saraf terbaik Surabaya di bidang Fungsional. SNei merupakan kupulan dokter bedah saraf dari berbagai spesifikasi keilmuan yang tergabung dalam yang tergabung dalam Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Ada 6 divisi di dalam SNei, yakni trauma, vascular, pediatri, onkologi, fungsional dan spine.

Dokter-dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei ini berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional. (Yet)

 

 

 

Leave a Reply

Select Language