Metode Sains dan Medical Invention

SNei.or.id- POLEMIK terapi cuci otak menguak lagi setelah ada berita pemecatan Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (dr. T) oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Sekalipun pada Senin (9/4) putusan tersebut ditunda pemberlakuannya oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Putusan pemecatan merupakan wewenang dari organisasi profesi (IDI) dengan latar belakang etik profesi dan pertimbangan lainnya. Polemik di dunia kedokteran selalu muncul karena ilmu kedokteran itu bukan ilmu pasti dan masih banyak masalah di bidang kedokteran yang belum jelas dan belum ada obatnya.

Sehingga disini sering timbul ketimpangan antara harapan masyarakat dan pelayanan medis. Berbeda dengan bidang ilmu lainnya, ilmu kedokteran berhubungan dengan manusia sehingga masalah safety, etik, dan aspek legal selalu melekat dalam implementasinya.

Metode Sains

Dalam bidang kedokteran, medical invention (penemuan baru) bisa berupa teori/konsep baru, metode/teknik baru, hingga produk atau obat baru. Karena implementasinya ke manusia, maka harus menggunakan metode clinical trial design  dengan tahapan (1) penelitian in vitro, (2) penelitian pada hewan, (3)penelitian pada manusia, dan terakhir (4) postmarketing surveillanc. Intinya untuk membuktikan kegunaan pasti dan efek samping yang mungkin bisa terjadi.

Pada fase clinical trial (manusia) terdiri atas fase. Salah satunya berupa multicenter double blind clinical trial. Dalam fase ini dilakukan penelitian di beberapa institusi dengan metode statistik yang disepakati dan hasilnya akan cukup sahih untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tetapi ada beberapa kejadian, saat fase ini didapatkan efek samping pada pasien dan penelitian akan dihentikan. Setelah itu ada tahapan terakhir, yaitu postmasketing surveillence, dilihat sampai 20 tahun setelah penelitian. Banyak contoh kasus, pada 1950-an, setelah diyakini aman diluncurkan obat thalidomide untuk antimuntah dan anticemas. Namun, setelah beberapa tahun penggunaannya ternyata ibu hamil yang minum obat ini hampir 50% bayinya cacat sehingga obat tersebut segera distop dari peredaran.

Akhir-akhir ini juga terjadi penarikan besar-besaran obat Albothyl setelah penggunaanya selama 25 tahun di Indonesia. Awalnya terbukti efektif sebagai antiseptik. Ternyata belakangan banyak keluhan efek samping sehingga setelah dianalisis ulang BPOM memutuskan menarik edar obat ini.

Solusi

Selain terapi “cuci otak”, kita ingat isu “terapi setrum” Warsito dan yang sudah terlanjur populer seperti terapi detoks, terapi medan magnet, brain gym, dan lainnya. Atau bahkan yang sudah mendunia adalah terapi stem cell untuk solusi segala macam penyakit.

Sebenarnya polemik itu wajar mengingat masih ada gap antara teori atau logika dengan kenyataan medis. Stem cell secara teori dan eksperimenatal di laboratorium terbukti bagus. Tetapi belum terbukti secara scientific dan evidence based pada manusia untuk semua penyakit. Sehingga di seluruh dunia saat ini penelitian pada manusia sangat banyak dan kita semua menunggu hasilnya.

Pada terapi yang disebut “cuci otak”, digunakan teknik digital subtraction angingography (DSA), yaitu prosedur untuk melihat pembuluh darah di dalam tubuh dengan teknik kateterisasi, dan menggunakan heparin untuk mencegah terjadinya gumpalan darah saat prosedur. Sejak diperkenalkan pada tahun 1930-an dan banyak dikerjakan sejak 1970-an, metode ini rutin untuk diagnostik stroke, dan sampai saat ini belum ada konsensus internasional yang menunjukkan DSA dengan heparin bisa untuk mengobati stroke.

Polemik ini akan sangat baik bila diperdebatkan secara internal medis dalam tahapan research (seperti kultur di negara maju) dan argumen scientific akan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Seperti kasus “Setrum Warsito”, polemik ini sudah terlanjur beredar di masyarakat. Karena pelayanan sudah dimulai dan kemudian baru diikuti research untuk mendukungnya. Padahal untuk menunjukkan keamanan dan keberhasilan metode baru harus melalui tahapan research yang sahih dan butuh waktu. Bukan hanya berdasar testimony based evidence (Youtube atau media sosial) atau expert opinion. Disini tampak sikap Kemenkes dan IDI sendiri belum satu suara dan cenderung memang selalu terlambat,

Hemat saya, metode”cuci otak” ini sudah pernah dilakukan penelitian awal (preliminary report) dan sebaiknya segera dikawal untuk proses tahapan riset selanjutnya (multicentertrial) untuk membuktikan manfaat dan keamanannya. Selama proses penelitian, harus dijelaskan kepada masyarakat bahwa jenis pelayanannya masih berupa service by reseach dan dijelaskan secara detail keuntungan dan kerugiannya.

Sebaiknya istilah brain wash atau “cuci otak” jangan terlalu kedepankan. Sebab, isti;ah ini cenderung iklan populis marketing dan tidak scientific medis. Di satu sisi kita tetap harus mendukung inovasi anak bangsa, tetapi di sisi lain kita juga harus mengikuti kultur scientific mengikuti guidline internasional. Sehingga seiring dengan tekad kita menjadi bangsa mandiri dalam sains, kita harus mendorong pelaku riset untuk melakukan penelitian berorientasi produk atau metode baru dengan proses yang benar dan terstandart sehingga bisa diakui secara internasional. (*)

*) Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp.BS (K)

Guru besar Ilmu Bedah Saraf FK UNAIR, Ketua Umum Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi), dan President ASEAN Neurosurgical Association.

Leave a Reply

Select Language