Merawat Anak Pasca Operasi Hidrosefalus

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Pasca operasi hidrosefalus, seorang anak membutuhkan perawatan khusus. Tanpa mengetahui cara merawat, bisa menyebabkan sang anak menderita infeksi pada otak. Lalu bagaimana caranya?

Langkah awal setelah operasi yaitu melakukan terapi berkesinambungan yang efektif dan intens. Contohnya yang paling penting yaitu terapi kognitif dan motorik pada bayi. Terapi kognitif seperti mengajarkan anak melafalkan huruf. Sementara terapi motorik misalnya mengajarkan anak berjalan, makan, minum, duduk, maupun berdiri. Terapi ini dilakukan agar fungsi otak yang terganggu sebelumnya dapat dimaksimalkan kembali.

Hal ini terutama bertujuan pula untuk melatih kemampuan fisik dan tumbuh kembang bayi supaya berjalan normal. Sehingga efek gejala gegar otak ringan akibat pembesaran kepala bayi dapat diatasi dengan baik dan maksimal.

Langkah berikutnya adalah dengan memperhatikan dengan seksama asupan makanan serta nutrisi yang diterima oleh bayi yang baru dioperasi. Air susu ibu (ASI) sangat diperlukan, karena manfaatnya yang cukup besar bagi pemulihan dan daya tahan tubuh.

Asupan gizi  dari asi ekslusif yang optimal menjadikan bayi terhindar dari berbagai macam penyakit saraf  yang bisa saja terjadi sebagai efek samping dari operasi.

Yang terakhir ialah selalu cek selang (shunt) pada bayi. Karena pengobatan hidrosefalus sebagian besar dilakukan dengan cara memasang shunt yang bertujuan untuk membuang cairan serebrospinal yang berlebih dalam otak. Cairan otak dialirkan ke bagian tubuh lain, yaitu rongga perut, untuk selanjutnya diserap oleh pembuluh darah.

Operasi dengan model pemasangan shunt memerlukan pengawasan secara rutin oleh dokter untuk menghindarkan bayi dari infeksi. Apabila terjadi kesalahan  sangat mungkin akan memunculkan infeksi.

Kemunculan infeksi biasanya ditandai dengan pembengkakan atau kemerahan di sepanjang lintasan selang pembuangan cairan otak. Apabila terjadi infeksi anak menjadi rewel karena nyeri kepala dan anak sering muntah-muntah. Kalau sudah seperti ini, segera hubungi dokter bedah saraf di seluruh Indonesia.

Penyakit hidrosefalus merupakan penyakit yang paling sering ditemui pada bidang bedah saraf anak, neuro pediatri. Hidrosefalus sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh menumpuknya cairan serebrospinal di dalam otak. Akibat penumpukan cairan ini, ukuran kepala penderita menjadi membesar. Hidrosefalus bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu karena bawaan, infeksi di otak, atau akibat tumor.

Oleh karena itu apabila seorang anak menderita hidrosefalus, konsultasikan dengan dokter bedah saraf di seluruh Indonesia.  Dokter bedah saraf  akan menangani kondisi fisik anak apabila terjadi gejala klinis.  Penggantian selang dapat dilakukan secara partial (bagian yang bermasalah saja) ataupun secara total.

Di Indonesia, terdapat kumpulan dokter bedah saraf terbaik yang tergabung dalam Surabaya Neuroscience Institute (SNEI). Di dalamnya ada berbagai macam bidang yang siap menangani berbagai permasalahan bedah saraf, salah satunya divisi Neuro Pediatri. Di antara para dokter spesialis bedah saraf di Surabaya itu, mereka mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional. (Aby)

Leave a Reply

Select Language