Mengenal Varises Otak

Foto: Wirawan/ SNei

SNei.or.id-Pecahnya pembuluh darah bisa mengakibatkan stroke tak hanya dipicu oleh buruknya gaya hidup. Pecahnya pembuluh darah karena varises otak atau Arteriovenous Malformations (AVM) disebabkan kelainan bawaan sejak lahir.

AVM merupakan kelainan pada jalinan pembuluh darah arteri yang berhubungan secara langsung ke pembuluh darah vena tanpa intervensi kapiler yang mengakibatkan derasnya aliran darah dan resistensi yang rendah. Sehingga, pembuluh vena pada otak tampak melebar karena tidak mampu menahan tingginya tekanan darah.

Kelainan sirkulasi ini membuat pembuluh darah rawan pecah dan bisa menyebabkan pendarahan pada otak. Ketika pembuluh darah pada otak sudah pecah dapat berpotensi menyebabkan stroke bila penanganan yang diberikan terlambat.

AVM pada otak bervariasi bentuknya, beberapa biasanya kecil bahkan tidak terlihat selama beberapa dekade, kemudian lainnya membentuk saluran besar dan berliku-liku pada arteri yang berdenyut kuat karena langsung terhubung ke vena. AVM dapat ditemukan di bagian mana saja pada otak termasuk korteks otak, materi putih, dan batang otak.

Sampai saat ini penyebab AVM otak belum diketahui, namun peneliti percaya bahwa AVM otak berkembang selama perkembangan janin. Pada umumnya, AVM disebabkan oleh kelainan kongenital bawaan yang terjadi pada janin sehingga seseorang akan lahir dengan kelainan tersebut.

Faktanya, sebanyak 300.000 penduduk di Amerika mengalami penyakit ini setiap tahunnya. Fakta yang lain, AVM otak mempengaruhi sekitar 0.1% populasi manusia di dunia. Meski demikian, AVM jarang mempengaruhi lebih dari satu anggota dari keluarga yang sama.

Gejala dan Pengobatan

Hampir semua mereka yang menderita AVM tidak merasakan adanya kelainan atau gejala. Sekitar 12% pasien dari seluruh kasus mengalami gejala dengan tingkat keparahan yang beragam. Gejala AVM sangatlah beragam, tergantung lokasi yang diserang. Namun, hampir 90% penderita AVM tidak menimbulkan gejala yang berarti. Malformasi AVM dapat diketahui secara tidak sengaja pada saat autopsi atau pengobatan penyakit lain yang tidak berhubungan.

Pada sebagian kecil kasus, karena pembesaran ukuran atau pendarahan kecil di otak dapat menyebabkan epilepsi, sakit kepala, atau nyeri di sekitar kepala. Gejala AVM mulai dirasakan ketika berusia 10-30 tahun, tetapi jarang terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Ada beberapa gejala umum yang ditimbulkan pada penderita AVM antara lain:

  • Kejang.
  • Seperti mendengar suara mendesing.
  • Kelemahan progresif atau mati rasa.
  • Ketika terjadi pendarahan pada otak gejala yang timbul antara lain sakit kepala mendadak, kelemahan, kesemutan, penurunan penglihatan, dan kesulitan untuk berbicara.

Tindakan yang dapat dilakukan pada penderita AVM adalah pembedahan dengan teknik tertentu. Pembedahan tersebut dapat memberikan hasil yang baik bila AVM terbatas pada satu lokasi saja. Tingkat kesembuhan pada proses pembedahan yaitu 95%, tergantung pada ukuran dan lokasi. Pengobatan AVM dapat dilakukan untuk menghilangkan atau meringankan gejala atau keluhan, menurunkan resiko pendarahan, dan mencegah pendarahan ulang.

Selain pembedahan, radiasi atau pemotongan suply darah ke AVM dapat dilakukan. Jika pengobatan yang dilakukan secara tepat, maka malformasi arteri vena kulit kepala dapat memenuhi harapan yang diinginkan pasien.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(khb)

Leave a Reply

Select Language