Mengenal Spastisitas, Penyakit yang Membuat Otot Kaku

Foto: Wirawan/ SNei

Snei.or.id-Bagi sebagian orang kata “spastisitas” tidak terdengar familiar. Namun, bagi yang mengetahui, ini merupakan penyakit yang cukup berbahaya. Spastisitas yaitu terjadinya kontraksi atau kekakuan abnormal pada sekumpulan otot secara terus-menerus secara tidak sengaja.

Penyebab utama spastisitas yaitu kerusakan jalur listrik antara otak dan sumsum tulang belakang yang mengontrol gerakan normal. Menurut berbagai kondisi yang disebabkan, spastisitas dibagi beberapa bagian:

  1. Rigditas: Kekakuan abnormal atau kontraksi tidak disengaja dari otot-otot tubuh terhadap gerakan yang tidak tergantung kecepatan.
  2. Klonus: Gerakan yang berosilasi sekunder akibat kekakuan otot tubuh.
  3. Distonia: Kontraksi otot-otot tubuh yang tidak disengaja sehingga menghasilkan postur yang abnormal.
  4. Chorea: Gerakan otot-otot tubuh yang tidak disengaja atau secara cepat.
  5. Balismus: Gerakan otot-otot tubuh yang tidk disengaja, seperti melempar anggota tubuh.
  6. Tremor: Gerakan otot tubuh yang tidak disengaja, ritmik, dan berosilasi berulang.

Penderita spastisitas tidak selalu dirugikan, karena dengan beberapa gerakan spastis, sirkulasi darah dapat meningkat sehingga dapat mencegah trombosis vena, dapat mengurangi resiko osteoporosis, dan sebagai pengganti tenaga yang digunakan untuk berdiri, berjalan, atau menggenggam.

Meski demikian, dampak kerugian yang dihasilkan lebih banyak seperti: perubahan bentuk tubuh yang mengakibatkan dislokasi, kontraktur, dan skoliosis, gangguan dalam aktivitas sehari-hari seperti menggunakan baju atau mandi, gangguan dalam mobilitas seperti sulit berjalan maupun duduk, berat badan yang sulit naik karena penggunaan kalori yang berlebihan, dan depresi akibat ketergantungan terhadap orang lain.

Gejala Spastisitas dan Pengobatannya

Spastisitas disebabkan oleh trauma medula spinalis, cedera otak, stroke, multipel sklerosis, dan cedera saraf perifer. Gejala yang ditimbulkan muncul pada saat terjadinya cedera pada bagian tubuh. Otot-otot yang terkena dampak dari cedera menunjukkan klonus yang spontan atau terprovokasi, serta adanya peningkatan pada refleks tendon dalam. Kondisi ini dapat terjadi pada otot manapun, namun hanya otot yang terkena cedera yang merasakan imbas dari gejala penyakit spastisitas.

Terdapat berbagai macam pengobatan penyakit spastisitas, mulai dari pengobatan konservatif hingga agresif (operasi). Metode pengobatan konservatif cukup bervariasi, mulai dari terapi fisik, terapi okupasi, biofeedback, kursi roda, dan obat-obatan.

Beberapa hal dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan, seperti lama tidaknya penderita itu mengalami gangguan, keberhasilan terapi sebelumnya, status fungsional sekarang, penyakit yang mendasari dan tersedianya pengobatan berkelanjutan.

Metode pengobatan yang dilakukan bertujuan agar meningkatkan fungsi yang digunakan terkait pada kehidupan sehari-hari, mobilitas tubuh, dan perubahan postur tubuh yang pada akhirnya memerlukan tindakan operasi.(khb)

Leave a Reply

Select Language