Mengenal Dystonia, Kram yang Terjadi pada Otot

 

Foto: Wirawan/ SNei

SNei.or.id- Dystonia ditandai dengan kram otot dan gerakan bergetar di otot berulang-ulang. Mengenal dystonia lebih dekat akan membuat kita lebih waspada dan tahu bagaimana menanganinya. Berikut ulasannya.

Dystonia adalah kondisi medis di mana otot berkontraksi secara tidak sengaja. Membuat gerakan secara sengaja pada otot yang sakit akan membuat kondisi semakin parah dan menyebar ke otot terdekat. Dystonia berbeda dengan penyakit parkinson, walaupun gejalanya hampir mirip.

Dystonia ditandai dengan kontraksi otot berkelanjutan yang terasa sangat menyakitkan. Gangguan ini memiliki dampak signifikan pada kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Spektrum Dystonia dapat melibatkan seluruh tubuh, beberapa otot, atau hanya satu otot.

Dystonia diklasifikasikan menjadi tiga jenis: idiopatik, genetik, dan diperoleh. Dystonia idiopatik mengacu pada kondisi di mana penyebab pastinya tidak dapat ditentukan. Dystonia genetik mengacu pada kasus di mana kondisi ini diturunkan oleh orang tua ke anak. Dystonia yang diperoleh adalah akibat sekunder dari kecelakaan, seperti cedera kepala, hipoksia (kurangnya oksigen ke otak), infeksi, stroke, atau pendarahan otak neonatal.

Pada anak, gejala distonia muncul pertama kali di kaki dan tangan, dan kemudian dengan cepat berkembang ke seluruh tubuh. Sedangkan pada orang dewasa, biasanya dimulai pada tubuh bagian atas dan selanjutnya perlahan-lahan menyeluruh ke bagian lain.

Penyebab pasti dari dystonia belum berhasil ditentukan, namun para peneliti percaya bahwa ketidakmampuan otak untuk melakukan fungsinya berperan dalam mengembangkan kondisi ini. Penyebab lainnya yang memungkinkan adalah kecelakaan (menyebabkan cedera yang memengaruhi otak) dan keturunan.

Meskipun dokter percaya bahwa komplikasi otak berperan dalam menyebabkan dystonia, penyebab pastinya masih belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap muncul dystonia. Pada dystonia genetik, salah satu anak mungkin mendapatkan gen abnormal karena kondisi ini, dari orangtuanya.

Pada dystonia yang diperoleh, cedera kepala, infeksi, dan gangguan kesehatan lainnya yang dapat memengaruhi fungsi otak dapat menyebabkan dystonia.  Namun, jika kondisi diklasifikasikan sebagai dystonia idiopatik, ini berarti bahwa dokter tidak dapat menentukan penyebab pastinya dan telah menghilangkan kemungkinan penyakit ini diturunkan atau disebabkan oleh kondisi medis yang telah ada sebelumnya.

Apabila Anda mengalami hal ini, segeralah periksakan ke dokter saraf, agar segera dilakukan penanganan dengan operasi, sehingga dampak kontraksi otot tidak berlanjut dan dapat beraktivitas kembali.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(aby)

 

 

 

Leave a Reply

Select Language