Mencegah Hidrosefalus Sejak Awal Kehamilan

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Penyakit hidrosefalus atau pembesaran kepala pada bayi, ternyata bisa dicegah. Hal-hal di bawah ini, menjelaskannya.

Pada kasus hidrosefalus, Indonesia ternyata berada pada posisi tertinggi  antara Amerika dan Belanda. Kasus hidrosefalus di Indonesia mencapai 10 mil per tahun. Sedangkan  di Amerika kasus hidrosefalus berada di angka 2 mil per tahun, dan di Belanda hanya sekitar 0,65 mil per tahun.

Hidrosefalus adalah sebuah kondisi pembesaran ukuran kepala bayi akibat kondisi medis yang cukup menakutkan. Kondisi ini dapat terjadi akibat adanya penumpukan cairan didalam otak. Normalnya, cairan di otak itu berfungsi sebagai bantalan otak. Ketika volumenya berlebihan, maka akan menekan otak dan bisa menyebabkan kerusakan otak serta gangguan mental atau fisik.

Pemicu hidrosefalus pada bayi belum diketahui dengan jelas, tetapi secara umum dapat disebabkan oleh cacat genetik, perdarahan pada janin sebelum kelahiran, infeksi pada ibu seperti toksoplasma atau sifilis, atau cacat lahir seperti spina bifida. Pada bayi, hidrosefalus bisa dideteksi lewat pemeriksaan USG saat bayi berusia sekitar 6-7 bulan dengan cara mengukur lingkar kepala janin. Semakin cepat kondisi ini ditemukan dan diobati, dampak kerusakan jangka panjang bisa dicegah.

Walau demikian, mayoritas tanda hidrosefalus baru diketahui beberapa bulan setelah bayi lahir berupa kepala yang tampak lebih besar. Memang perkembangan kepala bayi memang lebih pesat pada setahun pertama usianya, tetapi pada kasus hidrosefalus kepalanya berkembang lebih cepat dibanding laju normalnya.

Tekanan cairan pada otak akan menyebabkan bayi menjadi sangat rewel, kebanyakan tidur, sering muntah, dan hanya mau menyusu sedikit.Untuk memastikan adanya hidrosefalus, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk CT scan, MRI, atau USG untuk mendapat gambaran yang lebih detil.

3 Cara Mencegah Hidrosefalus

Dikutip dari laman alodokter.com, ada beberapa cara untuk mencegah hidrosefalus. Pertama, sebelum menikah, pasangan calon pengantin harus memeriksakan kondisi kesehatannya untuk mencegah kelainan bawaan pada bayi saat hamil nanti. Sehingga jika salah satu pasangan terganggu kesehatannya, bisa segera ditangani oleh dokter.

Kedua, sesudah menikah, khususnya selama masa kehamilan, harus dilakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur ke dokter agar dapat diketahui bagaimana kesehatan janin yang dikandung dan kemungkinan terjadinya hidrosefalus. Tes TORCH (toxoplasma, cytomegally, rubella, herpes) juga bisa jadi alternatif untuk mencegah bayi cacat.

Jadi sebelum hamil, si ibu harus sudah dipastikan bahwa dia sehat, tidak ada infeksi-infeksi yang bisa menyebabkan kelainan bawaan. Kebanyakan para ibu memeriksa, kalau sudah hamil. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah dengan menjaga asupan gizi. Kekurangan zat gizi tertentu atau komponen tertentu bisa berakibat kelainan pada bayi, termasuk kelainan otak

Ketiga,setelah buah hati lahir, perhatikan tumbuh kembangnya. Pada masa bayi dan balita, hidrosefalus sering terjadi akibat infeksi otak yang mengganggu peredaran cairan otak karena TBC otak atau infeksi bakteri, virus, tumor dan jamur.

Jaga kebersihan lingkungan dan berikan imunisasi kepada buah hati Anda. Juga, lindungi selalu kepala anak dari cedera yang mungkin saja bisa berakibat yang membahayakan kesehatan anak.

Kenali Gejala Hidrosefalus

Gejala hidrosefalus pada bayi dapat meliputi, kepala luar biasa besar dan terjadinya peningkatan ukuran kepala yang sangat pesat, menggembungnya ubun-ubun, atau titik lemah di permukaan tengkorak, mata yang tetap melihat ke bawah, kejang, bayi mengalami kerewelan yang ekstrim, muntah, mengantuk yang berlebihan, pola makan yang buruk, dan kekuatan otot sangat lemah.

Adapun tanda balita maupun orang dewasa, beberapa gejala di antaranya adalah, sakit kepala, pandangan ganda maupun buram, pembesaran abnormal pada kepala, sering mengantuk, sulit untuk bangun dari tempat tidur, mual atau muntah, keseimbangan tubuh tidak stabil, koordinasi yang buruk, nafsu makan berkurang dan kejang.

Selain gejala di atas, ada pula perubahan perilaku dan kognisi pada balita dan orang dewasa yang bisa diperhatikan. Yaitu, lebih cepat marah, perubahan perilaku, tidak fokus, penurunan kinerja dan keterlambatan atau masalah dengan kemampuan yang diperoleh sebelumnya, misalnya dalam hal berjalan atau berbicara.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(Muf)

 

Leave a Reply

Select Language