Kecelakaan Lalu Lintas, Jauh Lebih Berbahaya dari Benturan Biasa

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Kecelakaan lalu lintas, tentu saja bias menimpa siapa saja. Dampaknya bisa dua hingga tiga kali lipat bahayanya dibandingkan benturan biasa. Hal itu menyebabkan benturan benda keras pada kepala yang akan berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi otak, saraf otak, fraktur tulang tengkorak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri.

“Dalam kecelakaan, benturan bias terjadi berulang-ulang. Inilah yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas menjadi lebih berbahaya dari pada benturan biasa,”  ujar Prof. Abdul Hafid Bajamal, Sp.BS (K), pendiri Surabaya Neuroscience Institute (SNei).

Keparahan cedera akan tergantung dari mekanisme dan kerasnya benturan yang dialami penderita.Gejala yang dialami penderita cedera kepala berbeda-beda sesuai dengan keparahan kondisi yang dialami oleh penderita. Bisa dirasakan langsung sesaat setelah cedera terjadi. Keretakan (fraktur) tengkorak, kulit kepala yang robek dan perdarahan seperti memar di otak, dan timbul benjolan di kepala.

Beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita cedera kepala biasanya adalah kehilangan kesadaran untuk beberapa saat, terlihat linglung, pusing memiliki pandangan kosong, pusing, kehilangan keseimbangan, sulit tidur, sensitif terhadap cahaya atau suara, dan penglihatan kabur.  Tak hanya itu, penderita seringkali kesulitan mengingat atau berkonsentrasi, kehilangan kesadaran yang sangat lama, pusing hebat secara berkelanjutan, kehilangan koordinasi tubuh, kejang, koma, hingga berujung pada kematian.

Karena itulah cedera kepala memang tidak bisa dianggap perkara remeh. Memahami bahayanya cedera pada kepala, tentu saja membuat kita lebih berhati-hati.

Penderita cedera kepala ringan biasanya tidak memerlukan tindakan medis khusus dikarenakan kondisinya dapat membaik dengan beristirahat. Dokterbiasanya memberi obat-obatan tertentu.

Jika cedera kepala tergolong sedang atau berat, biasanya oleh dokter akan dilakukan fisioterapi sebagai perawatan yang dilakukan untuk membantu mengembalikan fungsi otak dan mengurangi risiko cedera kepala yang tambah parah.

Dalam kasus yang tergolong parah, sampai penderita mengalami koma, dokter mungkin akan melakukan tindakan operasiguna memperbaiki organ kepala yang rusak akibat cedera. Cara yang paling aman untuk mencegah kondisi semakin memburuk adalah dengan mengonsultasikan ke dokter bedah saraf di seluruh rumah sakit di Indonesia.

Di Surabaya terdapat tim dari divisi neuro trauma yang tergabung dalam Surabaya Neuroscience Institute yang siap menangani masalah ini. Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei).

Dokter-dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional. (Aby)

 

Leave a Reply

Select Language