Jangan Sepelekan Penyempitan Tulang Belakang

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id- Penyempitan tulang belakang bukan penyakit yang bisa disepelekan. Jika tidak segera ditangani dan tidak diobati secara kontinyu menyebabkan beberapa komplikasi permanen, seperti mati rasa, gangguan keseimbangan, kesulitan bahkan tidak bisa mengendalikan urine yang keluar, hingga paling fatal menyebabkan kelumpuhan.

Penyempitan tulang belakang atau dalam istilah medis disebut stenosis spinal, adalah suatu kondisi di mana ruas tulang belakang mengalami penyempitan sehingga menimbulkan tekanan terhadap saraf tulang belakang.

Punggung belakang dan leher adalah area yang sering terpengaruh. Namun pada umumnya, hal ini bisa terjadi pada tulang belakang manapun.

Stenosis spinal biasanya terjadi pada pria dan wanita berusia 50 tahun ke atas. Namun, orang yang lahir dengan penyempitan rongga tulang belakang atau menderita cedera tulang belakang juga dapat mengalami penyakit ini.

Penyebab lainnya adalah tumor, penyakit paget (tulang tumbuh secara abnormal), skoliosis (kelainana bentuk tulanag belakang), hingga kelainan sejak lahir.

Berikut adalah beberapa gejala stenosis spinal:

  1. Penyempitan tulang belakang leher (cervical stenosis) ditandai dengan lemah, mati rasa, atau kesemutan pada bagian tangan, lengan, kaki, atau telapak kaki, sakit leher, gangguan keseimbangan yang menyebabkan susah berjalan, hingga gangguan kandung kemih jika penyakit sudah berada pada tingkat parah.
  2. Penyempitan tulang belakang bagian punggung bawah (lumbar stenosis) ditandai dengan lemah atau mari rasa (kesemutan) pada tungkai dan kaki, nyeri punggung bawah, serta sakit atau kram pada tungkai ketika berjalan terlalu lama.

Ketika gejala di atas sudah teridentifikasi, maka dokter akan melakukan diskusi seputar riwayat kesehatan pasien. Langkah selanjutnya adalah dokter melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan saraf terhadap kekuatan motorik dan sensorik.

Kemudian dokter akan melakukan beberapa tes pencitraan yang meliputi foto rontgen, MRI, dan CT Myelogram.

Foto rontgen dilakukan untuk mengetahui penyempitan celah kanal tulang belakang. Tes MRI bertujuan untuk mendeteksi kerusakan yang terjadi pada ligamen dan bantalan tulang, kehadiran tumor, serta menunjukkan bagian saraf tulang belakang yang mengalami tekanan.

Sedangkan CT scan menghasilkan gambar penampang tubuh pasien yang rinci dan dari berbagai sudut.

Menindaklanjuti bahaya penyempitan tulang belakang, maka deteksi sejak dini dapat mengurangi risiko yang akan terjadi di kemudian hari. Beberapa jenis pengobatan yang bisa ditempuh antara lain pengobatan oleh dokter dan pengobatan di rumah.

Jika pasien berkonsultasi pada dokter, maka biasanya dokter akan memberikan suntikan pada bengkak dan obat penawar rasa sakit seperti NSAIDs (Nonsteroidal anti-inflammatory drugs) seperti ibuprofen (Advil, Motrin IB, dll) dan naproxen terlebih dulu, kemudian obat anti-depresan dan ati kejang seperti gabapentin dan pregabalin untuk rasa sakit yang tak kunjung hilang. Pada tingkat parah, dokter akan merekomendasikan operasi yang paling sesuai untuk sakit pasien.

Selain oleh dokter, pengobatan juga dilakukan secara sinergis di rumah. Meminum obat penawar rasa sakit seperti ibuprofen dan naproxen dilakukan secara rutin sesuai petunjuk dokter. Menempelkan air panas atau air es pada area yang sakit dapat pula merelaks dan meringankan rasa sakit. Selain itu, diet yang sesuai dan menjaga pola makan serta gaya hidup sehat juga tak kalah pentingnya.

Surabaya Neuroscience Institute (SNei), merupakan kumpulan para dokter spesialis di bidang bedah saraf. Grup dokter spesialis bedah saraf itu berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf. Beberapa anggotanya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional. Jadi, jika ada gejala di atas yang Anda alami, segera konsultasikan ke dokter segera. (ilm)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Select Language