Ingin Tahu Cara Mencegah Stroke di Usia Muda?

SNei – Dulu, stroke dikenal sebagai penyakit yang muncul pada penderita berusia lanjut. Namun, hal itu telah berubah. Menurut spesialis perawatan stroke Cleveland Clinic, Andrew Rusmann, sebanyak 25% penderita stroke adalah mereka yang berusia di bawah 45 tahun. Termasuk di antaranya adalah pasien yang berusia 30 tahun-an.

Dengan kondisi yang mengerikan tersebut, tidak heran kalau masyarakat perlu mencari cara mencegah stroke sejak dini. Dengan begitu, risiko terjadinya stroke bisa diturunkan. Cara terbaik untuk melakukan pencegahan ini adalah dengan membiasakan gaya hidup sehat.

Ada banyak gaya hidup sehat yang perlu dipraktikkan. Secara khusus kalau Anda mencari cara mencegah stroke, hal yang perlu dilakukan adalah diet garam. Perlu diketahui, dalam kehidupan sehari-hari, garam bisa hadir dalam berbagai bentuk.

Tidak hanya dalam bentuk garam dapur, baik alami ataupun tidak. Beberapa bahan makanan yang punya kandungan garam atau sodium antara lain adalah susu, seledri, monosodium glutamat (MSG), makanan kaleng, daging olahan, sereal, kecap, dan lain-lain.

Garam sejatinya bukanlah bahan yang berbahaya. Bahkan, garam memiliki manfaat untuk tubuh. Natrium yang ada dalam garam berguna untuk pengontrolan volume serta tekanan darah. Selain itu, zat ini juga berguna untuk membantu kinerja otot dan saraf. Hanya saja, kalau berlebihan bisa berakibat hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Dengan mempertimbangkan manfaatnya, konsumsi garam pun tidak bisa dihentikan secara penuh. Namun, perlu dikontrol agar tidak berlebihan. American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi garam tidak lebih dari 1.500 mg per hari. Sementara itu, WHO punya standar yang lebih tinggi di angka 2.000 mg per hari.

Lalu, bagaimana dengan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi garam? Di Indonesia, tidak ada data pasti mengenai hal tersebut. Sementara itu, secara khusus warga Kota New York memiliki rata-rata konsumsi garam sebesar 3.031 mg per hari. Angka tersebut pun terpaut cukup jauh dengan rekomendasi yang diberikan, baik oleh AHA ataupun WHO.

Lalu, bagaimana pembatasan konsumsi garam bisa disebut sebagai salah satu cara mencegah stroke? Jawabannya bisa dilihat pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Cincinnati Children’s Hospital. Dalam penelitian tersebut, diungkapkan bahwa konsumsi garam berlebih pada usia muda berakibat pembuluh arteri yang kaku. Kalau hal ini dilakukan secara terus-menerus, risiko terjadinya stroke pun sangat tinggi.

  • Dengan latar belakang seperti itu, melakukan diet garam merupakan salah satu cara efektif menurunkan risiko terjadinya stroke. Ada berbagai langkah yang bisa dilakukan untuk membatasi konsumsi garam, di antaranya adalah:
  • Mulai mengurangi penggunaan garam saat memasak. Demikian pula bahan-bahan lain yang mengandung sodium seperti saus salad, kecap, saus tomat, dan sebagainya.
  • Hindari kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau olahan. Kalaupun terpaksa, terlebih dahulu harus melihat komposisinya. Pastikan makanan untuk melihat jumlah kandungan natrium atau sodiumnya.
  • Biasakan untuk memulai mengonsumsi sayur dan buah yang segar. Demikian pula untuk konsumsi daging, pilih daging segar, bukan daging olahan seperti sosis, nugget, dan sejenisnya.
  • Saat memilih makan di restoran atau tempat makan, minta pelayan untuk mengurangi pemakaian garam.

Perlu diingat, diet garam bukanlah berhenti untuk mengonsumsi garam. Kalau tidak ada asupan garam ke dalam tubuh, bisa-bisa Anda akan menderita penyakit hiponatremia. Penyakit ini terjadi karena kurangnya asupan natrium dalam tubuh. Ditandai dengan beberapa gejala seperti sering gelisah, kram otot, pusing, mual dan muntah, ataupun kejang-kejang.

Jadi, cara terbaiknya adalah melakukan pembatasan. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Leave a Reply

Select Language