Epilepsi, Apa Sih?

Foto: Wirawan/SNei

Snei.or.id – Kita tentu saja tidak asing dengan epilepsi. Namun tidak banyak dari kita yang memahami apa itu epilepsi, gejala hingga penanganannya. Tulisan ini akan menjelaskannya.
Epilepsi adalah gangguan fungsi saraf jangka panjang. Epilepsi memiliki ciri serangan-serangan-serangan kejang singkat dan hampir tak terdeteksi hingga kejang kuat untuk periode yang lama atau serangan kejang yang cenderung berulang.

Penyebab epilepsi banyak yang tidak mengetahuinya. Beberapa orang beranggapan epilepsi sebagai akibat dari cedera otak, stroke, kanker otak, dan penyalahgunaan obat dan alkohol. Kerusakan atau perubahan di dalam otak diketahui sebagai penyebab pada sebagian kecil kasus epilepsi. Namun pada sebagian besar kasus yang pernah terjadi, penyebab masih belum diketahui secara pasti.

Kejang memang menjadi gejala utama penyakit epilepsi. Dalam dunia medis, seseorang dicurigai menderita epilepsi setelah mengalami kejang sebanyak lebih dari satu kali. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran.

Serangan awal epilepsi biasanya sering diawali dengan pengalaman tertentu. Serangan ini mampu dilihat dari fenomena indra (penglihat, pendengar atau pembau), psikis, otonomik, atau motorik. Termasuk gerakan yang tidak disadari dan kebanyakan gerakan berulang sederhana seperti memainkan bibir atau gerakan yang lebih kompleks seperti mencoba mengambil sesuatu.

Serangan tonik-klonik terjadi dengan kontraksi anggota tubuh diikuti dengan ekstensi disertai dengan punggung melengkung ke belakang yang berlangsung selama 10–30 detik (fase tonik). Jeritan mungkin terdengar karena kontraksi otot-otot dada. Ini kemudian diikuti dengan gerakan anggota tubuh secara serempak (fase klonik).

Serangan tonik menyebabkan kontraksi otot terus-menerus. Penderita sering menjadi biru karena pernafasan terhenti. Dalam serangan klonik anggota tubuh bergerak serempak. Setelah gerakan terhenti, penderita mungkin perlu waktu 10–30 menit untuk kembali normal yang disebut “fase postiktal”. Ujung atau sisi lidah bisa tergigit selama serangan epilespi. Serangan dilanjutkan dengan kehilangan kesadaran mendadak. Bisa tersamar dengan hanya kepala menoleh sedikit atau mata berkedip-kedip

Epilepsi dapat mulai diderita seseorang pada usia kapan saja, meski umumnya kondisi ini terjadi sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dibagi dua, yaitu idiopatik dan simptomatik.
Epilepsi idiopatik merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui. Sejumlah ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Sedangkan epilepsi simptomatik merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Sejumlah faktor, seperti luka berat di kepala, tumor otak, dan stroke diduga bisa menyebabkan epilepsi sekunder.

Menangani Epilepsi

Epilepsi bisa dikontrol dengan pengobatan antiepilepsi sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman dan menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya. Contohnya adalah terjatuh, tenggelam, atau mengalami kecelakaan saat berkendara akibat kejang.
Selain obat-obatan, penanganan epilepsi juga perlu ditunjang dengan pola hidup yang sehat, seperti olahraga secara teratur dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Sedangkan bagi mereka yang menderita epilepsi yang tak kunjung membaik setelah ditempuhnya penanganan-penanganan lain bedah epilepsi. Prosedur-prosedur yang lazim ditempuh meliputi: pemotongan hipokampus lewat reseksi lobus temporal anterior, pengangkatan tumor, dan pengangkatan sebagian neokorteks. Beberapa prosedur seperti kalosotomi korpus dilakukan dalam upaya mengurangi jumlah kejang alih-alih menyembuhkan kondisi si pasien. Setelah bedah, pengobatan sering kali bisa dikurangi secara perlahan.

Stimulasi saraf bisa menjadi pilihan alternatif bagi pasien yang tidak bisa menjalani pembedahan. Ada tiga jenis yang telah terbukti efektif pada pasien yang tidak menunjukkan respons terhadap pengobatan:stimulasi saraf vagus, stimulasi talamik anterior, dan stimulasi responsif gelung tertutup.

Epilepsi apabila tidak ditangani bisa menyebabkan kematian mendadak dan mengalami status epileptikus. Status epileptikus merupakan kondisi ketika penderita epilepsi mengalami kejang selama lebih dari 5 menit atau mengalami serangkaian kejang pendek. Ketika serangkaian kejang pendek terjadi, penderita status epileptikus biasanya akan berada dalam keadaan yang tidak sadar sepenuhnya. Status epileptikus dapat menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen, bahkan kematian.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(Aby)

Leave a Reply

Select Language