Cegah Cedera Kepala dengan Helm Standar SNI

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Kecelakaan sepeda motor sebagian besar menjadi penyebab utama terjadinya cedera kepala berat. Helm, tentu saja menjadi salah satu pengaman yang mampu melindungi dari benturan kepala itu. Lalu bagaimana memilih helm yang bisa melindungi dari cedera kepala saat terjadi benturan?

Keparahan cedera kepala akibat kecelakaan sepeda motor diakibatkan oleh mekanisme dan kerasnya benturan yang dialami oleh kepala. Kepala akan mengalami keretakan (fraktur) tengkorak (gegar otak) dan pendarahan di kepala.

Cedera kepala berat yang dialami penderita pasca kecelakaan sepeda motor mempengaruhi fisik maupun psikologi penderitanya. Gejala-gejala tersebut meliputi sulit berbicara, memar dan bengkak di kepala dan, gangguan pada panca indra.

Gejala lain yaitu kehilangan pendengaran atau mengalami penglihatan ganda, keluar darah atau cairan bening dari telinga atau hidung kejang dan kehilangan kesadaran.

Angka kecelakaan lalu lintas tiap tahunnya sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah kecelakaan lalu lintas mencapai 108.374 peristiwa dan memakan korban setidaknya 25.859 orang meninggal dunia dan 143.852 korban luka-luka pada 2016.

Data tersebut pun menunjukkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia, yakni terkait dengan kemampuan serta karakter pengemudi dan perangkat keselamatan yang dikenakannya.  Penyabab lain ialah  faktor kendaraan yang tidak memenuhi persyaratan faktor prasarana dan lingkungan, seperti jalan rusak dan berlubang.

Masyarakat Indonesia kebanyakan tidak terlalu mementingkan penggunaan helm. Padahal helm sangat berfungsi untuk melindungi kepala. Minimal mencegah kepala dari cedera kepala berat akibat kecelakaan sepeda motor.

Standar Nasional Indonesia (SNI), melalui kementerian perhubungan telah menetapkan beberapa standar helm yang dipakai oleh pengendara sepeda motor. Syarat tersebut antara lain material helm harus dibuat dari bahan yang kuat dan bukan logam. Material helm tersebut tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 derajat celsius sampai 55 derajat celsius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultra violet. Serta, material helm harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya.

Syarat kedua ialah bahan pelengkap helm harus tahan lapuk, tahan air dan tidak dapat terpengaruh oleh perubahan suhu. Syarat terakhir ialah bahan-bahan yang bersentuhan dengan tubuh tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan iritasi atau penyakit pada kulit, dan tidak mengurangi kekuatan terhadap benturan maupun perubahan fisik sebagai akibat dari bersentuhan langsung dengan keringat, minyak dan lemak si pemakai.

Saat ini, sudah banyak beredar helm standar SNI di pasaran dengan berbagai merek dan harga mulai dari Rp 130 ribu hingga Rp 300 ribu ke atas.

Cedera kepala memang tidak bisa dianggap perkara remeh. Memahami bahayanya cedera pada kepala, tentu saja membuat kita lebih berhati-hati. Konsultasikan permasalahan mengenai cedera kepala dengan dokter bedah saraf di seluruh Indonesia.

Di Surabaya terdapat tim dokter bedah saraf terbaik dari berbagai spesifikasi keilmuan yang tergabung dalam yang tergabung dalam Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Ada 6 divisi di dalam SNei, yakni trauma, vascular, pediatri, onkologi, fungsional dan spine. Cedera kepala, termasuk dalam divisi neuro trauma.

Dokter-dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei ini berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional. (Aby)

 

Leave a Reply

Select Language