Cedera Otak Ringan Bisa Sebabkan Disfungsi Otak

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Pusing yang mendera tak bisa dianggap remeh begitu saja. Bisa jadi itu adalah salah satu tanda bahwa cedera otak ringan sedang menyerang. Cedera (trauma otak ringan) terjadi selama sekitar 30 menit. Meski tidak terlalu lama, namun bahayanya tidak main-main, yaitu disfungsi otak sementara dan menyebabkan beberapa komplikasi.

Ketika berlanjut dalam tahap parah, efeknya akan merusak, merobek, atau membuat memar pada jaringan sel otak. Otak terlindungi dari guncangan oleh cairan otak dalam kepala. Oleh karenanya guncangan dan benturan keras pada kepala atau tubuh bagian atas dapat membuat otak ikut terguncang membentur dinding kepala bagian dalam.

Risiko besar paling mungkin terjadi pada anak-anak bayi hingga umur 4 tahun, orang dewasa muda dengan rentang usia 15-24 tahun, serta orang dewasa berumur 75 tahun atau lebih. Pada usia anak-anak, ada beberapa gejala tambahan seperti menangis dan terus merasa sedih dan depresi, hingga sulit berkosentrasi tak lama setelah kepala berdarah.

Penyebab yang sering terjadi dari kasus cedera otak ringan (COR) adalah kepala terkena benturan, dipukul benda dengan keras, tertimpa benda berat, kecelakaan pada olahraga maupun di jalan raya, dan tabrakan. Penyembuhan COR terjadi dalam sebulan atau kurang.

Secara fisik, COR dapat dideteksi dengan adanya rasa linglung, bingung, dan disorientasi, bahkan pingsan selama beberapa detik hinggga menit. Jika berlanjut, maka akan timbul sakit kepala, mual dan ingin muntah, kehilangan keseimbangan, dan berujung pada kejang-kejang.

Adapula beberapa efek secara indra, yaitu penglihatan buram, telinga berdenging, mulut terasa buruk atau perubahan pada kemampuan untuk mencium. Sensitivitas terhadap cahaya dan suara juga terganggu. Sedangkan gangguan kognitif atau kejiwaan setelah cedera kepala ringan basanya kurang memperhatikan/berkonsentrasi, suasana hati terus berubah, dan merasa tertekan atau cemas.

COR dapat diketahui dengan akurat menggunakan tes skala koma Glasgow, di mana Anda akan dinilai berdasarkan respon mata, verbal, dan motorik. Semakin tinggi nilai, semakin serius cedera kepala. Tes pencitraan (X-ray, MRI) berguna untuk melihat apakah terdapat kerusakan pada tengkorak kepala atau otak. CT Scan dan MRI mungkin diperlukan untuk mendapatkan gambar bagian dalam tempurung kepala untuk mengevaluasi kondisi otak dan struktur di dalam kepala lebih baik.

Lebih baik mencegah daripada mengobati. Sudah sepatutnya kepala, organ yang paling vital sebaiknya dijaga dari hal-hal yang dapat memicu terjadinya COR. Bertindak hati-hati dalam berbagai situasi bisa menjadi tindakan preventif. Penggunaan helm ketika berkendara, memakai perlengkapan keselamatan kerja, serta menggunakan pelindung yang aman dan nyaman. Membaca aturan keselamatan sebelum melakukan kegiatan berisiko seperti flying fox dan wahana permainan menguji adrenalin yang lain.

Konsultasikan berbagai permasalahan yang terkait dengan bedah saraf dengan dokter spesialis bedah saraf yang tergabung di Surabaya Neuroscience Institute (SNei). Dokter dokter spesialis bedah saraf Surabaya yang tergabung di dalam SNei berkomitmen dan berkolaborasi dalam sebuah tim yang solid yang siap menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan bedah saraf di Indonesia. Beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan dalam lingkup profesi kesehatan di level internasional.(ilm)

 

 

 

Leave a Reply

Select Language