Benjolan di Punggung Bayi, Waspadai Spina Bifida

Foto: Wirawan/SNei

SNei.or.id-Jika Anda menemukan benjolan di tulang belakang bayi baru lahir, waspadalah itu adalah Spina Bifida. Karena jika terlambat dalam penanganan akan mengakibatkan kelumpuhan.

 

Spina Bifida adalah penyakit saraf tulang belakang yang ditandai dengan terbentuknya celah pada sumsum tulang belakang bayi. Kelainan ini dipicu oleh pembentukan sumsum tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan.

 

Pada kondisi normal, embrio akan membentuk tabung saraf yang kemudian berkembang menjadi tulang belakang dan sistem saraf. Jika proses ini tidak berjalan dengan lancar, beberapa ruas tulang belakang tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menciptakan celah.

 

Di dalam kanal spinal, saraf dilapisi oleh selaput yang dinamakan meningen. Di luar dari tulang belakang, terdapat jaringan kulit. Bila celah mencapai sebagian jaringan kulit, misalnya pada kulit di bagian punggung bawah, cairan di otak yang mengelilingi sumsum tulang belakang dapat mendorongnya sehingga terbentuk kantung yang dapat terlihat di punggung bawah.

 

Penyebab Spina Bifida

Banyak dugaan sejumlah faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Spina Bifida. Di antaranya adalah kekurangan asam folat pada ibu hamil. Memiliki kadar asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko bayi lahir dengan Spina Bifida.

 

Sebaliknya, kekurangan asam folat merupakan faktor pemicu yang paling signifikan dalam kasus spina bifida serta jenis kecacatan tabung saraf lainnya. Kekurangan asam folat disebabkan karena ibu hamil kurang mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat seperti, kacang-kacangan, brokoli, kentang, telur, dan buah-buahan.

 

Penyebab lainnya, adalah akibat mengonsumsi obat-obatan tertentu, khususnya asam valproat dan carbamazepine yang digunakan untuk epilepsi atau gangguan mental, seperti gangguan bipolar atau gangguan kejiwaan.

Selain itu, ibu hamil yang menderita diabetes juga . Wanita yang mengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan Spina Bifida.

 

Obesitas pada masa sebelum kehamilan ternyata juga akan meningkatkan risiko seorang wanita untuk memiliki bayi dengan kecacatan tabung saraf, termasuk Spina Bifida. Wanita yang memiliki faktor-faktor risiko tersebut dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan dokter agar langkah pencegahan dapat dilakukan, terutama bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan.

 

Bagaimana Gejalanya?

Gejala yang dialami tiap penderita Spina Bifida bisa bermacam-macam, tergantung lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang.Terdapat beragam gejala yang mungkin disebabkan oleh spina bifida yaitu Pertama, gangguan mobilitas. Kondisi ini ditandai dengan tubuh bagian bawah yang mengalami kelemahan otot atau bahkan lumpuh.

 

Kedua, gangguan saluran kemih dan pencernaan. Penderita Spina Bifida umumnya mengalami susah buang air kecil atau susah buang air besar karena adanya gangguan pada saraf yang mengatur saluran kemih dan pencernaan.

 

Mendeteksi Penyakit Spina Bifida

Untuk mendeteksi adanya Spina Bifida, jenis pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah tes darah serta USG. Melalui tes darah, dokter akan memeriksa kadar alfa-fetoprotein yang terkandung dalam darah ibu hamil. Pemeriksaan melalui USG akan memastikan diagnosis kelainan struktur tertentu pada otak bayi yang mengindikasikan Spina Bifida.

 

Pemeriksaan lain  adalah pemeriksaan pada bayi pasca kelahiran. Bayi yang terlahir dengan spina bifida harus menjalani beberapa tes seperti USG, CT scan, atau MRI untuk menentukan tingkat keparahan dan membantu menentukan prosedur penanganan yang paling tepat. (aby)

 

Leave a Reply

Select Language