Arteriovenous Malformation (AVM)

Apa itu Arteriovenous Malformation  (AVM) ?

Arteriovenous malformation (AVM) merupakan kelainan bawaan pada sistem sirkulasi/ pembuluh darah pada otak, kelainan ini terjadi di mana persambungan pembuluh arteri dan vena seperti benang “kusut”. Biasanya arteri (pembuluh darah yang membawa oksigen) terhubung ke pembuluh darah  vena (pembuluh darah yang tidak membawa oksigen) melalui sistem pembuluh darah kecil yang dikenal sebagai “kapiler”. Namun pada kasus AVM, sistem kapiler itu tidak ada, dan darah dialirkan dari arteri ke vena secara langsung. Sehingga tidak terjadi pertukaran oksigen pada sel. Kelainan pembuluh darah ini sebagian besar di dapat selama perkembangan pada janin, Kasus  AVM yang di dapat setelah kelahiran jarang di laporkan.

Karena tidak adanya system kapiler menyebabkan sistem aliran pembuluh pada  AVM tinggi, sehingga berisiko terjadi pecahnya pembuluh darah tersebut dan menyebabkan perdarahan yang berpotensi mengancam jiwa (pendarahan otak), terutama pada orang dewasa muda. Karena aktivitas dewasa muda sangatlah tinggi yang menyebabkan aliran darah juga meningkat. Dari risiko inilah tujuan utama untuk mengobati AVM adalah mencegah pendarahan baru atau berulang.

Tanda Gejala AVM

AVM biasanya akan mulai muncul gejala pada usia  20 – 50 tahun. AVM tidak muncul gejala pada usia di atas 50 tahun, karena AVM akan tetap stabil sehingga tidak menimbulkan gejala sama sekali. Gejala yang umum muncul pada kasus AVM adalah kejang dan sakit kepala.

  • Kejang bisa terjadi total atau sebagian. Dan dapat menyebabkan hilangnya kontrol atas gerakan, kejang atau bahkan penurunan kesadaran.
  • Sakit kepala bisa sangat berbeda dalam intensitas, durasi dan frekuensi. Kadang-kadang, sakit kepala terjadi di titik AVM. Namun lebih sering, itu mempengaruhi seluruh kepala, dengan rasa pusing yang hebat.
  • Beberapa pasien mungkin mengalami gejala neurologis tergantung pada lokasi AVM, seperti:
  1. Kelemahan otot atau kelumpuhan di satu bagian tubuh
  2. Masalah visual/ gangguan penglihatan seperti hilangnya sebagian lapang pandang
  3. Susah bicara atau sulit memahami bahasa/ Afasia
  4. Sensasi abnormal (mati rasa, kesemutan atau nyeri spontan)
  5. Kebingungan/ disorientasi
  6. Demensia/ pikun
  7. Hilangnya koordinasi (gangguan gaya berjalan)
  8. Kesulitan untuk mengontrol gerakan mata
  9. Defisit memori, yaitu mengalami kesulitan fokus dalam membaca, lupa mengenai hal yang harus dilakukan dalam beberapa detik,
  10. Halusinasi

Faktor risiko yang bisa menyebabkan pecahnya AVM.

AVM berisiko tinggi untuk pecah dan menyebabkan perdarahan, yang selanjutnya dapat menyebabkan stroke. Faktor risiko pecahnya AVM, termasuk:

  1. Ukuran AVM (diameter <3 cm)
  2. Lokasi jauh di dalam jaringan otak
  3. Kehamilan
  4. Tekanan tinggi di arteri (Hipertensi)

Bagaimana mendiagnosa AVM

Tes diagnostik yang dilakukan untuk mendeteksi AVM adalah:

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan tes non-invasif, digunakan untuk menilai AVM. Ini umumnya digunakan ketika tidak ada perdarahan yang dicurigai. MRI lebih sensitif daripada CT Scan dan dapat menunjukkan perubahan yang lebih halus dalam jaringan otak yang terkait dengan otak AVM.

  • Computed tomography (CT) scan

CT sacan umumnya digunakan untuk mengevaluasi perdarahan dari AVM

  • Computed tomography angiography (CTA)

CT angiografi digunakan untuk memvisualisasikan/ mengambarkan pembuluh darah dalam AVM.

  • Digital subtractive angiography (DSA)

DSA memberikan informasi tentang morfologi (mengambarkan AVM lebih detail) serta karakteristik aliran darah AVM. Prosedur DSA, yaitu dengan memasukkan tabung tipis (kateter) panjang ke dalam arteri di selangkangan dan memasukkannya ke otak, menggunakan pencitraan X-ray. Dokter akan menyuntikkan pewarna ke pembuluh darah otak untuk membuatnya terlihat di bawah pencitraan X-ray.

Bagaimana penangganan AVM

  • Pemantauan/ evaluasi

Monitor dan evaluasi AVM, untuk risiko terjadinya perdarahan. Evaluasi ini dilakukan dengan foto MRI minimal 1 tahun sekali.

  • Pembedahan konvensional

Dalam prosedur dilakukan pengangkatan AVM, dengan bantuan mikroskop berkekuatan tinggi, untuk melihat  AVM  dan menjepit AVM dengan klip khusus dan secara hati-hati melepaskannya dari jaringan otak di sekitarnya.

  • Pembedahan konvensional biasanya bersifat elektif (operasi yang telah dijadwalkan dengan kondisi pasien masih baik/ bukan dalam kondisi gawat darurat) dan dilakukan setelah menilai dengan hati-hati manfaat dan risikonya.
  • Pembedahan melibatkan pengangkatan bagian pusat dari AVM untuk memastikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya
  • Pembedahan biasanya dipilih ketika AVM berada di bagian otak yang mudah dijangkau dan jika ukurannya relatif kecil
  • Pilihan alternatif dapat dipertimbangkan untuk AVM yang terletak jauh di dalam otak, karena ada risiko kerusakan pada area fungsional otak dengan operasi konvensional
  • Teknik Embolisasi Endovaskular
  • Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan tabung tipis (kateter) panjang dari pembuluh darah (arteri) kaki sampai pembuluh darah di otak, dan menggunakan pencitraan X-ray. Kateter diposisikan di salah satu pembuluh darah yang mengalirkan darah ke AVM, dan menyuntikkan agen embolisasi, seperti partikel kecil, substansi mirip lem, mikrokoil atau bahan lain, untuk memblokir arteri dan mengurangi aliran darah ke AVM.
  • Embolisasi dapat digunakan untuk AVM yang terletak jauh di dalam otak dan tidak dapat diakses dengan mudah.
  • Agen embolisasi bertujuan untuk meningkatkan pembekuan dan memperbaiki aliran darah Biasanya, embolisasi tidak secara permanen menghapuskan AVM. Ini digunakan sebagai tambahan untuk operasi atau radiosurgery. Ini berfungsi untuk mengurangi aliran darah melalui AVM dan memfasilitasi operasi pengangkatan.
  • Radiosurgery

Prosedur radiosurgery ini dengan mengunakan sinar radiasi yang difokuskan secara tepat pada AVM untuk merusak pembuluh darah dan menyebabkan jaringan parut. Pembuluh darah AVM yang terluka kemudian perlahan-lahan membeku dalam satu sampai tiga tahun, sehingga ukuran AVM juga akan mengecil. Radiosurgery dapat dipertimbangkan untuk AVM kecil yang sulit dihilangkan dengan pembedahan konvensional dan belum menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa. Juga, dipertimbangkan untuk pasien yang memiliki risiko yang terkait dengan operasi atau teknik endovascular tinggi.

Arteriovenous malformation (AVM) bisa menyerang pada siapa saja dan pada usia berapa saja. Lakukan screening kesehatan segera dila ada keluhan pusing kepala berat hingga kejang. Karena penganganan AVM yang dini akan mendapatkan hasil yang baik dan memiliki risiko untuk pecahnya (perdarahan otak) juga semakin kecil.

sumber: mayoclinic

Leave a Reply